::: SIMAK BERBAGAI INFO SEPUTAR NU KABUPATEN KENDAL DI WEBSITE INI ::: PENYAMPAIAN KRITIK, SARAN, INFORMASI,PENGIRIMAN BERITA, ARTIKEL DAN PEMASANGAN IKLAN, HUBUNGI EMAIL : PCNUKENDAL@GMAIL.COM :::

TAHKIM, SEJARAH DAN SUDUT PANDANG TEOLOGIS

pcnu kendal Artikel Komentar: 1 Dibaca: 3970 Kali

Tahkim adalah pengangkatan “Hakam” atau juru runding untuk mendamaikan dua pihak yg bersengketa, agar terdamaikan tanpa pertumpahan darah. Tahkim terjadi pada zaman kekhalifahan Ali bin Thalib R.A, karena ada penentangan dari gubernur Syam, Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Padahal Ali sebagai Khalifah yang sah.

Kedua pihak memutuskan untuk memilih dua orang juru runding (hakamain) masing-masing dari kedua belah pihak. Muawiyah menugaskan Amr bin Ash sebagai juru runding dari pihaknya. Sedangkan dari pihak Ali ditunjuklah Abdullah bin Abbas. Hanya saja kaum Khawarij dan penduduk Yaman menolak, mereka malah meminta Abu Musa al-Asy’ari untuk menjadi juru runding pihak Ali. Ali terpaksa menerima hal ini karena Abu Musa al-Asy’ari dipilih oleh suara terbanyak.

Kedua juru runding berkumpul pada bulan Ramadhan. Sesungguhnya tidak terdapat keseimbangan dalam pertahkiman ini. Mereka bersepakat untuk menanggalkan pemimpin kedua belah pihak, yakni Ali dan Muawiyah. Maka tampillah Abu Musa al-Asy’ari dan Amr bin Ash untuk mengumumkan hasil tahkim mereka ke hadapan khalayak. Amr bin Ash mempersilakan Abu Musa al-Asy’ari untuk maju terlebih dahulu. Maka majulah Abu Musa mengumumkan bahwa dia telah menurunkan Ali dari jabatannya. Tetapi setelah itu, Amr bin Ash maju mengumumkan bahwa dia setuju memperhentikan Ali, kemudian diumumkannya bahwa dia menetapkan Muawiyah.

Peristiwa tahkim menimbulkan perpecahan pada laskar Ali. Kaum Khawarij mulailah memberontak dan meninggalkan Ali, dengan alasan Ali menerima tahkim, padahal kebanyakan kaum khawarij tadinya memaksa Ali supaya menerima tahkim. Mereka bukan tidak mengakui bahwa mereka tadinya mendesak Ali supaya menerima tahkim. Tetapi mereka masih menyalahkan Ali, kata mereka : “Kami telah salah, tetapi mengapa engkau ikut perkataan kami, padahal engkau tahu bahwa kami salah. Sebagai seorang khalifah, harus mempunyai pandangan yang jauh, melebihi pandangan kami, dan pandangan yang lebih tepat dari pendapat kami.” Kaum Khawarij tidak hanya meninggalkan Ali, malahan mereka juga melakukan berbagai pemberontakan dan pelanggaran di Irak.

Ali masih berusaha mengembalikan mereka kepada kebenaran dengan berbagai cara, tapi tidak berhasil. Akhirnya Ali mengambil keputusan memerangi mereka. Walaupun diperangi, namun mereka tidak dapat dihancurkan. Karena kalau Ali dapat menghancurkan mereka pada satu waktu atau tempat, lantas di waktu atau di tempat lain timbul  lagi laskar mereka yang baru. Demikian seterusnya.

Persengketaan antara Ali dan Mu’awiyah adalah ikhtilaf antara sahabat Nabi. Nabi melarang kita mencaci maki sahabatnya. Meskipun sejarah membuktikan kebenaran Ali yaitu beliau dianggap salah satu Al-Khulafa’ Ar-Rasyidin, tetapi kita tidak boleh mempersalahkan Mu’awiyah. Anggap saja melakukan ijtihad, yang salah dapat pahala satu, yang benar dapat dua pahala. Demikian pendapat ulama Ahlissunnah Waljamaah yang harus kita ikuti. Jangan tirukan syiah yg mengkafirkan Mu’awiyah. Jangan tirukan Khawarij yang mengkafirkan Ali. Ahlissunnah ada di tengah tengah atau Tawassuth. (MD Royyan).


Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF


One thought on “TAHKIM, SEJARAH DAN SUDUT PANDANG TEOLOGIS

  1. trimakasih saya haturkan, agak lebih jelas dgn peristiwa tahkim yg sedikit memberi titik noda hitam pada sejarah islam…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *