::: SIMAK BERBAGAI INFO SEPUTAR NU KABUPATEN KENDAL DI WEBSITE INI ::: PENYAMPAIAN KRITIK, SARAN, INFORMASI,PENGIRIMAN BERITA, ARTIKEL DAN PEMASANGAN IKLAN, HUBUNGI EMAIL : PCNUKENDAL@GMAIL.COM :::

Mencari Sosok Guru Panutan

admin2 Artikel Komentar: 0 Dibaca: 194 Kali

Dalam upaya menyiapkan Generasi Indonesia Emas yang diproyeksikan oleh Pemerintah RI pada tahun 2045, peranan guru sangat penting dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan berakhlak mulia. Kita menyadari peran guru  hingga saat ini masih eksis dan sangat dibutuhkan dalam membimbing siswa. Mengapa demikian ?  Sebab, guru sebagai seorang pendidik sekaligus yang membina sikap mental dan memberi motivasi untuk keberhasilan siswanya. Banyak pengorbanan yang diberikan oleh seorang guru semata-mata ingin melihat siswanya bisa berhasil dalam kehidupannya di masa depan. Namun demikian, sekarang  ini untuk mencari sosok guru yang benar-benar mendidik, membimbing, menasehati, memberikan motivasi, menjadi panutan bagi siswanya  sudah amat jarang. Yang banyak kita jumpai guru hebat dan profesional dalam mengajar, tetapi belum mendidik. Di depan kelas, guru seringkali menempatkan diri sebagai guru yang ‘sok pinter’ dan ‘pamer ilmu’. Sebab ia sangat menguasai bahan ajar, teknologi dan metode mengajar, tetapi sosok guru sebagai inspirator, motivator, dan teladan  dalam sikap dan perbuatan  yang secara kontinu membimbing, mengarahkan, serta  memperhatikan  perilaku siswa sudah jarang kita temukan.

   Dalam kenyataannya, juga sering kita jumpai  banyak guru memperoleh penghargaan  sebagai guru berprestasi baik tingkat lokal maupun nasional, tetapi menurut hemat penulis hal tersebut merupakan penghargaan yang penilaiannya masih sebatas guru berprestasi dalam hal penyampaian gagasan/ide (karya ilmiah), pengembangan bahan ajar, pengembangan metode belajar dan lain sebagainya, belum menyentuh pada persoalan esensial yang dibutuhkan siswa dalam peningkatkan belajar serta pembentukan karakter. Padahal yang dibutuhkan saat ini adalah guru yang mampu menjadi panutan baik sikap maupun perbuatan, yang secara langsung dapat dirasakan kehadirannya di tengah-tengah siswa, serta memberikan solusi setiap kesulitan yang dihadapi oleh siswa. Dan nampaknya guru yang seperti ini justru  jarang mendapat penilaian dan penghargaan dalam bentuk apa pun. Padahal jika kita perhatikan semangat munculnya Kurikulum 2013 sesungguhnya berorientasi pada pembentukan pendidikan karakter, yang diharapkan dapat menjadikan siswa lebih memiliki kepribadian dan menjadi manusia yang berkualitas. Sehingga dengan pendidikan karakter diharapkan tidak ada lagi tawuran antar pelajar, pergaulan bebas, penggunaan obat-obat terlarang, serta lahirnya generasi salih yang baik dalam kepribadian, tutur kata dan sikap  terutama kepada orang tua dan masyarakat.

Mengenai guru sebagai “Panutan” kehadirannya sangat dibutuhkan oleh siswa  sekarang ini. Apalagi guru merupakan tolak ukur bagi keberhasilan pembangunan bangsa terutama dalam usaha membentuk sumber daya manusia yang potensial (Sardiman, 2001:123). Selengkap apa pun sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah, tanpa ditunjang oleh guru yang memiliki integritas, berdedikasi tinggi dan kesungguhan dalam mendidik, maka hanya akan melahirkan tamatan (out come) yang pandai tetapi tidak berkarakter.

Ada ungkapan dari Kyai Zarkasyi salah seorang Pendiri Pondok Modern Gontor  yang patut kita simak, .”ألطريقة أهم من المادة، والمدرس أهم من الطريقة ، وروح المدرس أهم من المدرس” (“Metode itu lebih penting daripada materi, Guru itu lebih penting daripada metode, dan Ruh (jiwa) guru itu lebih penting daripada guru”). Ungkapan tersebut benar, bahwa nilai spiritualitas (jiwa)  seorang guru sangat besar peranannya dalam membentuk siswa yang berkualitas seperti  keikhlasan, kesungguhan, kejujuran, berdedikasi, sanggup berkorban dan sering mendoakan untuk siswanya untuk masa depannya kelak. Bahkan, nilai spiritualitas guru tersebut melebihi pentingnya  sebuah metode dan penguasaan bahan ajar. Kehebatan sebuah metode yang diperankan oleh guru itu penting, penguasaan bahan ajar pun tak kalah penting, tetapi jauh lebih penting adalah guru yang memiliki ruh (jiwa) dalam mendidik. Guru inilah yang sanggup melahirkan generasi yang hebat. Tak kenal lelah dan ikhlas dalam mendidik dalam situasi dan kondisi apa pun. Ibarat pelatih sepak bola, ia memiliki strategi dan semangat melatih anak asuhnya untuk menjadi pemain hebat dan pemenang (the winner).

Seorang Pemikir Pendidikan Islam Abad Pertengahan Burhanuddin Az-Zarnuji (wafat th.591 H./1195 M.) dalam salah satu kitabnya     ”Ta’limul Mutaalim” yang  menukil pendapat Sahabat Nabi  Ali Karramallahu Wajhahu mengatakan, bahwa salah satu syarat keberhasilan seorang penuntut ilmu (thalib al-ilm) dalam menuntut ilmu adalah dengan terpenuhinya 6 (enam) perkara. Di antara enam itu adalah “irsyadu ustadzin” (“dengan petunjuk dan bimbingan seorang guru”). Dalam hal ini, guru merupakan faktor penentu bagi keberhasilan siswa dalam menuntut ilmu. Sebab melalui nasehat dan bimbingan seorang guru-lah siswa akan mengerti dan memahami perihal mana yang baik dan mana yang buruk. Termasuk hal cara bagaimana menyampaikan materi yang sesuai dengan perkembangan psikologis siswa, guru-lah yang paling tahu. Di samping itu, komunikasi yang dibangun oleh guru kepada seluruh stakeholders dan pengawasan secara intensif dalam upaya pencegahan agar siswanya tidak terpengaruh  oleh lingkungan yang kurang mendidik juga sangat penting dilakukan.

Sebenarnya sosok guru sebagaimana tersebut di atas, merupakan harapan yang dijabarkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2008 tentang guru, dinyatakan bahwa kompetensi yang harus dimiliki oleh guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Dalam tataran ideal Peraturan Pemerintah (PP) tersebut sudah sangat benar dan tepat sebagai regulasi dan persyaratan yang harus dimiliki oleh guru, tetapi dalam tataran praksisnya belum begitu nampak peran guru dalam pengertian yang “benar-benar” mendidik terhadap siswa sebagaimana yang diamanatkan oleh Peraturan Pemerintah itu. Justru yang menonjol di permukaan guru masih sebatas mengajar (transfer of knowledge), belum disebut sebagai “guru” (“yang digugu dan ditiru”-Bahasa Jawa). Sehingga, sangat wajar jika sekarang ini guru banyak mendapat protes dari sebagian warga masyarakat, seperti kekerasan yang dilakukan oleh sebagian guru, pemberian hukuman (punishment) yang kurang mendidik, sehingga mengakibatkan siswa kurang menghargai (respect) terhadap guru.

Sehubungan hal tersebut di atas, sudah saatnya kini guru kembali pada tugas dan kewajiban utamanya yaitu guru bukan lagi sebagai pengajar tetapi tugas guru menjadi Coach, Conselor dan Learning Manager. Sebagai coach, seorang guru harus mampu mendorong siswa untuk menguasai konsep-konsep keilmuan, memotivasi untuk mencapai prestasi setinggi langit serta membantu untuk menghargai nilai-nilai dan konsep-konsep keilmuan. Sebagai conselor, guru berperan sebagai sahabat dan menjadi teladan serta memiliki keakraban dengan siswanya. Sebagai manager, guru membimbing siswanya untuk belajar, mengekspresikan ide-ide yang dimilikinya. Dengan demikian, diharapkan siswa mampu mengembangkan kreativitas dan mendorong adanya inovasi baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga siswa mampu berkompetisi dengan bangsa lain.

(Tulisan ini dipersembahkan dalam rangka memperingati Hari Guru, 25 Nopember 2018)

Oleh : Muhammad Umar Said (Ketua Pimpinan Cabang PERGUNU Kabupaten Kendal


Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *