::: SIMAK BERBAGAI INFO SEPUTAR NU KABUPATEN KENDAL DI WEBSITE INI ::: PENYAMPAIAN KRITIK, SARAN, INFORMASI,PENGIRIMAN BERITA, ARTIKEL DAN PEMASANGAN IKLAN, HUBUNGI EMAIL : PCNUKENDAL@GMAIL.COM :::

MAKNA BERBAKTI KEPADA ORANG TUA

pcnu kendal Artikel Komentar: 0 Dibaca: 3763 Kali

index

Salah satu bentuk kita menjalankan perintah Allah swt ialah birrul walidain (berbakti kepada orang tua). Perintah Allah swt sudah jelas dalam al-Quran maupun himbaun Nabi Muhammad saw dalam hadis beliau. Bahkan Allah swt menggandengkan perintah berbakti kepada orang tua dengan larangan menyekutukan Allah swt sebagaimana ayat yang telah dibaca sebelumnya. Sebenarnya apa rahasia di balik penggandengan perintah berbakti pada orang tua dengan larangan menyekutukannya.

Menurut pakar tafsir, penggandengan tersebut mengisyaratkan bahwa dosa kedurhakaan terhadap orang tua secara langsung berada di bawah dosa kemusyrikan. Sebab ridha Allah swt utamanya dapat diperoleh lantaran ridha kedua orang tua. Murka Allah swt merupakan akibat dari murka kedua orang tua. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh al-Tirmiżi, Ibnu Hibban & al-Hākim dari Abdullah bin Amr bin al-ʻĂṣ.

Keutamaan berbakti pada Ibu Bapak tidak hanya sampai disitu. Nabi Muhammad saw ketika ditanya oleh sahabat Ibnu Mas’ud tentang amalan yang paling dicintai Allah, beliau saw menempatkan birrul wālidain urutan kedua setelah shalat tepat waktu dan di atas keutamaan berjihad. Sebagaimana termaktub dalam shahih Bukhari & Shahih Muslim.

Al-Quran menyebut term wālidain kurang lebih sebanyak dua puluh kali dengan berbagai bentuknya. Dari dua puluh kata tersebut kita dapat menemukan berbagai perintah yang berkaitan tentang berbakti kepada keduanya. Di antaranya; berbuat iḥsān (kebaktian), berbuat ḥusn (kebaikan), memberi nafkah, mensyukuri mereka hingga mendoakan mereka dengan memohonkan ampun dan rahmat Allah swt.

Berbicara mengenai Berbakti kepada orang tua, al-Quran sering menggunakan kata ihsān yang memiliki arti berbuat baik. Sebagaimana firman-Nya swt;

﴿وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ﴾ (15) [الأحقاف: 15 ]

Kata ihsān yang berarti berbuat baik, itu lebih tinggi dari pada adil. Kita disebut adil ketika kita memberi semua hak orang lain atau mengambil semua hak kita. Sedangkan ihsān, kita memberi lebih banyak dari apa yang harus kita beri atau mengambil lebih sedikit dari apa yang harus kita ambil. Namun dalam ayat yang lain untuk konteks berbakti kepada Ibu Bapak, Allah swt juga menggunakan redaksi ḥusna. Kata ḥusna ini mencakup arti ‘segala sesuatu yang menggembirakan dan disenangi’. Meskipun kata ḥusna ini hanya disebutkan satu kali mengenai berbakti kepada orang tua dalam QS al-Ankabut: 8.

﴿وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ﴾ (8) [العنكبوت: 8]

Dua redaksi yang digunakan al-Quran ini, (iḥsān dan ḥusn), maknanya lebih dalam dari redaksi yang sering digunakan dan popular bagi kita, yaitu kata birr. Menurut pakar bahasa Arab, Ibnu Fāris, kata birrul dalam untuk wālidain mempunyai arti asli jujur dan kesungguhan dalam cinta dan kasih sayang.

Sudah barang tentu seorang anak, siapapun itu, pasti memiliki rasa cinta dan kasih sayang pada orang tuanya. Meskipun cinta dan kasih anak tidak sebesar yang dimiliki kedua orang tua. Akan tetapi rasa cinta dan kasih sayang bagi orang tua saja tidak cukup, anak dituntut mampu memberikan kegembiraan dan membuat orangtuanya senang. Di samping itu yang terpenting, anak juga harus dapat memperlakukan orang tua secara sopan dan baik.

Oleh karena itu, kita harus mampu mewujudkan kesungguhan cinta, membahagiakan dan berbuat baik bagi orang tua kita. Inilah salah satu bentuk syukur seorang anak bagi orang tuanya.    

Bila kita cermati ayat-ayat yang memerintahkan berbakti pada Ibu Bapak, selalu menggunakan kata penghubung huruf bāꞌ dalam perintah untuk ber-iḥsān dan ḥusn. Padahal pada umumnya, kata penghubung li dan ilā lebih tepat karena sering digunakan  dan mempunyai arti ‘untuk’ dan ‘kepada’. Namun redaksi yang dipilih al-Quran mempunyai rahasia dan makna lebih. Sebab kata penghubung huruf bāꞌ memiliki fungsi arti ilṣāq yakni, kelekatan, bukan hanya sekedar kedekatan. Jadi, birr, ḥusn dan iḥsān kita harus selalu melekat pada orang tua. Inilah salah satu kemukjizatan bahasa al-Quran.     

 
Jika Ibu Bapak kita masih ada, jangan sekali-kali kesempatan berbakti kita lewatkan. Mari kita memandangi wajah mereka dengan senyuman lembut dan penuh kasih sayang sehingga senyuman menghiasi wajah mereka saat melihat kita. Senyuman orang tua merupakan salah satu lambang keridhaan dan kebahagiaan mereka.

Ada tiga hal yang dapat mendatangkan pahala saat kita memandangnya dengan pandangan yang teduh. adalah :

  1. Ka’bah.
  2. wajah orang alim yang Saleh
  3. wajah kedua orang tua.      

Seorang anak yang berbakti pastilah ia akan selalu mendoakan kedua orang tuanya baik mereka masih hidup ataupun telah tiada agar mereka selalu dalam naungan rahmat dan ampunan Allah swt. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh al-Quran al-Karim kepada kita :

(  وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا )

Teringat salah satu hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitabnya al-Mustadrak :

برّوا آباءكم تبركم أبناؤكم

Berbaktilah kalian kepada orang tua kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbakti pada kalian.

-Ali Fitriana Abdussalam, penulis adalah pegiat dalam bahasa Arab-


Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *