::: SIMAK BERBAGAI INFO SEPUTAR NU KABUPATEN KENDAL DI WEBSITE INI ::: PENYAMPAIAN KRITIK, SARAN, INFORMASI,PENGIRIMAN BERITA, ARTIKEL DAN PEMASANGAN IKLAN, HUBUNGI EMAIL : PCNUKENDAL@GMAIL.COM :::

Kacamata

admin2 Artikel Komentar: 0 Dibaca: 148 Kali

Siapa yang tidak tahu kacamata?. Kacamata adalah alat bantu penglihatan. Bagi mereka yang bermasalah penglihatannya karena usia, seperti  plus atau minus, kacamata menjadi solusinya. Namun, ada pula kacamata hanya sebagai pemanis belaka,  penunjang penampilan  atau live style.

Kacamata memang bukan barang istimewa, karena selain mudah mendapatkannya, harga kacamata pun sangat variatif tergantung  kekuatan financial pembeli masing – masing.  Jika uang terbatas kacamata dapat dibeli di kaki lima.  Namun jika uang  cukup berlebih, silahkan membeli kacamata di optic dengan menggunakan resep dokter.

Hal ini berbeda ceritanya jika kacamata hanya sekedar pemanis penampilan atau live style. Mereka rela merogoh koceknya hingga ratusan ribu atau bahkan jutaan rupiah. Bahkan ke luar negeripun mereka lakukan guna memenuhi kesempurnanaan penampilan sebagaimana yangsering dipertontonkan oleh selebritis kondang negeri ini.   

Apabila kacamata merupakan satu kebutuhan agar sesuatu yang dilakukan dapat berhasil maksimal,  tidak bisa tidak kacamata harus dipenuhi, agar sang pemakai kacamata tidak menemukan hambatan dalam beraktivitas seperti mengaji, atau mengerjakan yang lainnya.  Namun akhir – akhir ini,  banyak kegaduhan disebabkan  kurang  obyektifnya  penglihatan mereka dalam memandang persoalan bangsa.  Semua tidak lepas dari pilihan kacamata yang dipakainya. Maka tidaklah mengherankan jika produksi hoaks dari hari ke hari kian merajarela.

                Di jaman now seperti ini, betapa pentingnya memakai kacamata bening ( transparan ) dalam memahami persoalan kebangsaan atau masalah – masalah lainnya yang berhubungan dengan keumatan. Dengan berkacamata bening diharapkan dapat bertindak dan berargumen sesuai fakta yang ditemukan. Bahkan di dalam diriya pun, tidak terbersit rasa untuk memfitnah atau membully siapa pun. Jika hal ini disadari semua pihak, maka betapa eloknya negeri ini, suasana  damai dan kondusif akan terjaga sepanjang masa.

Tapi fakta berbicara lain, riuh rendah, hiruk pikuk  di media sosial yang sekarang menjadi ujung tombak propaganda sering mempertontonkan sesuatu yang tidak sehat. Cacian dan umpatan hingga berujung debat kusir di medsos  terus terjadi setiap hari. Semua juga tidak lepas dari pilihan kacamatanya. Bila dia memakai kacamata merah, apapun yang dilakukan si merah akan sikapinya dengan baik. Begitu pula ketika dia memakai kacamata hijau, kuning, biru atau hitam.

Parahnya ketika dia memakai kacamata biru semua aktivitas atau karya bakti yang dilakukan oleh si merah, hijau, atau kuning selalu disikapi dengan sinis dan apatis oleh mereka yang berbeda kacamatanya, dengan dalih  tebar pesonalah, mencuri startlah atau yang lainnya. Inikah yang dinamakan pendidikan politik di jaman milineal?, Ataukah ini bagian dari cara berpolitik di era globalisasi ?, entahlah.

Fenomena tersebut bak gunung es ketika memasuki tahun politik. Para selebritis negeri membuang jauh-jauh  kacamata bening dalam bersikap. Ini sudah banyak dipertontonkan oleh selebritis senayan. Bahkan, tempat  yang seharusnya untuk mendekatkan diri kepada Yang Kuasa juga dikotori dengan umpatan dan cacian yang kasar dari mereka yang memantapkan dirinya sebagai tokoh umat.  Belum lagi mereka yang selama ini mengaku dirinya  penerus para nabi atau kekasih tuhan juga ramai – ramai berteriak lantang membuat  opini pedas, menyakitkan bahkan provakatif padahal  tugas beliau untuk bermauidloh khasanah pada rakyat atau umat. 

Ironis  memang, tapi mau apalagi jika hal tersebut sudah menjadi mindset-nya  dalam rangka membangun popularitas di tengah kegaduhan politik dalam negeri.

Namun demikian,  kita tidak boleh hanyut dalam carut marutnya keadaan. Kewaspadaan dan tabayun harus tetap terjaga  agar kebeningan kacamata tidak tenodai oleh intrik – intrik semu sebagaimana yang sering dipertontonkan oleh pengguna kacamata hitam. Aktivitas pemakai  kacamata hitam patut  diwaspadai, karena mereka sering menampilakan intrik- intrik yang dibalut agama. Agama dijadikan  sarana berlindung guna memuluskan niat jangka panjangnya, sehingga orang menjadi terlena.

Kacamata hitam  adalah tempat bersembunyi yang paling aman untuk  melakukan gerakan  kemunafikan, atau  kebohongan kepada masyarakat.  Dia mau melirik, memandang, menatap, atau bahkan tertidurpun orang di sekitarnya tidak tahu. Maka tidaklah mengherankan bila mereka yang jiwanya  labil atau terbatas pengetahuan agamanya sering menjadi sasaran gerakannya. Sensifitas agama, golongan,  dan semangat jihat  merupakan alat propaganda  paling banter di kampayekan di kampus – kampus atau di instansi pemerintah.

Oleh sebab itu, pentingnya pondasi aqidah dan nasionalisme ditanamkan sejak dini. Jangan sampai kealpaan kita terhadap lingkungan berdampak runtuhnya pondasi yang sudah di bangun selama ini terutama ketika anak – anak memasuki usia emas. Pilihlan sekolah yang betul – betul diketahui latar belakangnya. Jangan sampai  tergiur megahnya bangunan, jaminan hafal Qur’an dan beasiswa, aqidah dan jiwa nasiolisme anak – anak kita terbang melayang.

Oleh: Lek Basyid Tralala (Mantan Pengurus PC IPNU Kendal Pengurus Harian MWC NU Kaliwungu Selatan)


Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *