::: SIMAK BERBAGAI INFO SEPUTAR NU KABUPATEN KENDAL DI WEBSITE INI ::: PENYAMPAIAN KRITIK, SARAN, INFORMASI,PENGIRIMAN BERITA, ARTIKEL DAN PEMASANGAN IKLAN, HUBUNGI EMAIL : PCNUKENDAL@GMAIL.COM :::

DO’A DAN TAHLIL UNTUK NON MUSLIM

pcnu kendal Keislaman Komentar: 0 Dibaca: 3650 Kali

Latar Belakang Masalah

Seorang muslim mempunyai orang tua beragama selain Islam (Kristen atau Hindu ) telah meninggal dunia. Kemudian pada hari-hari tertentu orang muslim tersebut mengundang kyai dan para tetangga untuk berkumpul dirumahnya guna mambaca tahlil dan do’a-do’a yang pahalanya dikirimkan kepada orang tuanya yang telah meninggal yang kebetulan tidak beragama Islam.

Pertanyaan :

  1. Apakah boleh membacakan do’a dan tahlil kepada orang mati yang tidak beragama Islam ?
  2. Apakah pahala tahlil dan do’a bisa sampai kepada mayyit non muslim ?

 

Jawaban :

  1. Mendo’akan orang mati yang kafir (non muslim) dengan memintakan maghfiroh (pengampunan) dan rahmat hukumnya haram. Dengan demikian membacakan tahlil dan doa untuk mayyit non muslim hukumnya tidak boleh.
  2. Pahala tahlil dan doa yang dibacakan untuk mayyit non muslim tidak akan sampai kepadanya.

Keterangan Tambahan :

Mendo’akan orang kafir yang masih hidup agar mendapat hidayah dengan masuk Islam hukumnya boleh. Tetapi mendoakan orang kafir agar diampuni dosanya hukumnya tidak boleh.

 

Dasar Pengambilan Dalil :

 

  1. حاشية الصاوى جزء 3 ص 75 :                 

          (ماكان للنّبيّ والذين امنوا ان يستغفروا للمشركين ولو كانوا اولى قربى) ذوى قرابة (من بعد ما تبين لهم انهم اصحاب الجحيم) النار بأن ماتوا على الكفر . (قوله ماكان للنّبيّ) اى لاينبغى ولا يصح (قوله بأن ماتوا على الكفر) اى فلا يجوز لهم الاستغفار حينئذ . واما الاستغفار للكافر الحيّ ففيه تفصيل ان كان قصده بذلك الاستغفار هدايته للاسلام جاز، وان كان قصده ان تغفر ذنوبه مع بقائه على الكفر فلا يجوز .

  1. Hasyiyah As-Shawi Juz 3 hal 75 :

Nabi dan orang-orang yang beriman tidak boleh memintakan ampunan bagi orang-orang musyrik walaupun mereka masih kerabat, setelah nyata-nyata bahwa mereka adalah penghuni jahim (neraka),” karena mereka mati dalam keadaan kafir. Maka tidak boleh memintakan ampunan bagi orang-orang kafir yang telah mati. Sedangkan memintakan ampunan bagi orang kafir yang masih hidup maka hukumnya diperinci.

Jika tujuan memintakan ampunan agar orang kafir memperoleh hidayah dengan masuk Islam maka hukumnya boleh. Jika tujuannya agar orang kafir diampuni dosa-dosanya maka hukumnya tidak boleh.

  1. اعانة الطالبين جزء 2 ص 135 :

          (وتحرم صلاة) على كافر لحرمة الدعاء له بالمغفرة ، قال تعالى : “ولا تصل على أحد منهم مات ابدا”. أما دليل حرمة الدعاء له بالمغفرة فقوله تعالى : “إنّ الله لا يغفر ان يشرك به”. والسبب في نزول الآية الأولى ما أخرجه البخاري ومسلم وغيرهما عن ابن عمر رضي الله عنهما قال لما توفي عبد الله بن أبي بن سلول أتى ابنه عبد الله رسول الله صلى الله عليه وسلم فسأله أن يعطيه قميصه ليكفنه فيه فأعطاه ثم سأله أن يصلي عليه فقام رسول الله صلى الله عليه وسلم فقام عمر فأخذ ثوبه فقال يا رسول الله أتصلي عليه وقد نهاك الله أن تصلي على المنافقين فقال إن الله خيرني وقال “استغفر لهم أو لا تستغفر لهم سبعين مرة فلن يغفر الله لهم” وسأزيد على السبعين فقال إنه منافق فصلى عليه فأنزل الله ولا تصل على أحد منهم مات أبدا الآية فترك الصلاة عليهم . 

  1. I`anatut Thalibin Juz 2 hal 135 :

Haram meng-shalati orang kafir, sebab mendoakan orang kafir agar memperoleh ampunan juga haram. Allah berfirman : “Dan jangan selamanya meng-shalati salah satu dari mereka yang mati”. Sedangkan dalil haramnya mendoakan orang kafir agar supaya memperoleh ampunan adalah firman Allah : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni kemusyrikan”. Sebab turunnya ayat yang pertama sebagaimana hadits yang diriwayatkan Bukhari, Muslim dan lainnya, dari Ibn Umar RA berkata: Ketika Abdullah bin Ubay bin Salul meninggal, anaknya yang bernama Abdullah mendatangi Rasulullah SAW, lalu memintanya agar memberikan baju gamisnya untuk mengkafani ayahnya, maka Rasulullah SAW memberikannya, lalu memintanya pula untuk meng-shalat-kannya, lalu Rasulullah SAW berdiri (bersiap), maka berdirilah Umar dan memegang baju Rasulullah, lalu berkata: Ya Rasulullah, apakah engaku akan meng-shalat-kannya, padahal engkau telah dilarang oleh Allah untuk meng-shalati orang-orang munafiq. Rasulullah SAW bersabda: Allah memberiku pilihan dan berfirman : “Mintakan ampun mereka sebanyak tujuh puluh kali atau jangan mintakan ampun mereka, maka Allah tidak akan mengampuni mereka”. Lalu Rasulullah bersabda: “Dan aku akan menambahi hitungan tujuh puluh”. Umar berkata : dia itu munafiq, lalu Rasulullah akan meng-shalat-kannya, maka Allah menurunkan ayat : “Dan jangan selamanya meng-shalati salah satu dari mereka yang mati”, maka Rasulullah SAW tidak jadi meng-shalat-kannya.

(PC LBM KENDAL).


Print Friendly Version of this pagePrint Get a PDF version of this webpagePDF


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *